CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Kamis, 12 Februari 2009

Anak - Anak Hebat, Menghadapi Kehilangan Orang Tercinta

Rumah Omku menjadi ramai dengan berbagai kesibukan, tak ada yang memerintah, seolah semua orang tahu pasti, apakah yang harus dilakukan oleh mereka, ada yang memsang lampu, mengambil kursi, dan tempat mandi untuk jenazah. ya, itulah yang terjadi ketika jenazah Omku tiba di rumahnya. Mungkin hanya aku yang tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya terpaku melihat beberapa orang menggunting kain kafan yang akan dipakaikan kepada jasad Omku.Kucari adikku (anak Omku), dan kutemukan dia di ruang musholla, sedang mengaji, tersendat - sendat alunan surah Yasin yang mengalun dari bibir kecilnya. Dia masih kelas 7 SMP. Aku terduduk disampingnya, isakan tangis yang tertahan sering muncul menyela alunan ayat - ayat yang dibacanya, nafas beratnya yang tersenggal terdengar jelas olehku. Rupanya adikku berrusaha menahan tangisnya. Ingin kupeluk dia, dan kukecup keningnya, tapi aku tak bisa melakukan itu. Tanganku kurangkulkan di pundaknya. Pelan suaraku ulai mengikuti alunan surah Yasin yang dilantunkannya. Seperti hatiku yang telah tertarik dalam keharuan, dan mencoba mengerti apa yang sedan dia rasakan. Aku ingin berkata kepada adikku, aku akan selalu menjagamu, jangan kau terlalu bersedih adikku, lelaki gag boleh menangis. tapi aku tidak mengucapkan itu, karena pikiranku berkata bahwa janji itu terlalu berat.

Pada jam 2 malam aku kembali masuk di ruangan dimana jasad Omku terbujur. Kedua kakak - beradik (kedua anak Omku)itu sedang mengaji menghadap jasad ayah mereka. Mereka terlihat sangat tabah dan tegar menghadapi itu semua. Bahkan kami sempat bercanda masalah HP. Aku tak tahu apa yang mereka rasakan sebenarnya, tapi aku senang melihat mereka tabah dan ridho menghadapi kejadian yang mereka alami dalam satu babak kehidupan mereka. Semoga kalian selalu dalam pemeliharaan-Nya, Amien.

0 komentar: