CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Selasa, 29 Desember 2009

Study Tour 2009 @Malang

Mentari pagi masih enggan muncul ke permukaan di saat aku bersiap untuk melakukan sebuah aktivitas di hari senin (12/12/2009). Memang hari itu agak berbeda dengan biasanya. Teman – teman dari kelas XI IPS/Bahasa melakukan study tour di Malang untuk mengisi tugas pelajaran Sejarah, geografi, dan antropologi. Lokasi yang akan kami kunjungi adalah Lapindo, Kebun Raya Purwodadi, Candi Singasari, dan yang terakhir Musium Brawijaya.
Anak – anak sudah mulai memadati halaman SMA Negeri 2 Bojonegoro, di saat saya turun dari motor. Pada saat itu waktu masih menunjukkan pukul 04.45 WIB. Seorang perempuan dengan membawa tasnya, bergegas menghampiriku. “Alfi, kok belum berangkat sih, katanya jam setengah 5 sudah breefing?” Kata salah seorang temanku, sebut saja dia Pingkan. Akupun hanya sekedar menggelengkan kepala, memaklumi karena memang kebiasaan jam karet orang Indonesia. Aku heran, mengapa kebudayaan buruk ini bisa mendarah daging di negeri ini ya? Apa karena motto yang dibangga – banggakan yaitu: Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Wah, mau dibawa kemana bangsa kita ini kalau manusianya selalu menggunakan kalimat sakti ini untuk menyelamatkan diri dari perbuatan jam karet mereka. Aku lebih senang dengan motto yang pernah aku baca di buku: Lebih baik menunggu 1 jam, daripada terlambat 1 menit. Wah, mantep tuh,,,
Kembali ke permasalahan, akhirnya kita berangkat jam 05.30, molor setengah jam dari rencana. Walaupun telat, teman – teman masih terlihat semangat dan antusias dalam kegiatan ini. Aktifitas dimulai dengan absen dan berdoa sebelum berangkat meninggalkan Kota Bojonegoro tercinta. Di dalam bis, banyak kegiatan yang dilakukan teman –teman, mulai dari ngerumpi dengan teman terdekat, tidur, makan cemilan yang dibawa, sampa berkaraoke ria karena memang ada fasilitas lebih yang ada di dalam bis. Tujuan kita yang pertama adalah Lapindo, sebuah genangan Lumpur yang menyerupai Laut terletak di Kecamatan Porong, Sidoarjo. Sebuah tempat yang bisa dikatakan sebagai obyek wisata bencana yang bagiku tidak ada yang menarik. Hanya Lautan Lumpur yang panas dan beraoma tidak sedap.


Tapi yang membuatku agak tersentuh adalah kerja keras para korban yang berusaha untuk bangkit dan terus bertahan hidup dengan sesuatu yang bisa dimanfaatkan di situ seperti: Menjual VCD kronologis Lumpur panas, menjadi penjaga pintu masuk dengan biaya 2000 rupiah per orang, sampai menjadi tukang ojek yang siap mengantarkan wisatawan berkeliling kolam Lumpur. Kami tidak lama berada di sana. Hanya sekitar 10 menit. Dan kemudian kami langsung meluncur ke tujuan selanjutnya, yaitu, Kebun Raya Purwodadi.
Aku tudah tahu persis lokasi keberadaan tempat tersebut, namun dari beberasa sumber yang saya terima, Kebun Raya Purwodadi terletak di Desa Cowek, Kecamatan Purwosari, Kabupaten daerah Tingkat II Pasuruan.
Kami dipersilahkan untuk menikmati hijaunya kebun ini. Suasana berawan dan angin semilir menemani kami di sana. Pepohonan yang tinggi menjulang dan entah berusia berapa tahun, menaungi jalan beraspal yang kami lewati. Sayang sekali, waktu yang disediakan sangat terbatas. Hanya sekitar 1 jam saja. Untuk tempat sebesar itu, waktu tersebut terasa sangat kurang. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus segera lembali ke rombongan untuk menuju ke lokasi yang tidak kalah menarik, Candi Singasari.
Candi peninggalan kerajaan Singasari ini terletak di Jl. Kertanegara, Ds. Candi Renggo, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang. Obyek wisata tersebut di luar dugaanku yang sebelumnya. Lokasi di sana terlihat kecil. Menurut narasumber, hanya candi Induk Singasari sajalah yang dapat diselamatkan karena situs langsung berbatasan dengan jalan raya dan rumah penduduk. Candi yang dibangun pada masa pemerintahan Majapahit itu, ini tak seperti dulu, karena telah kehilangan puncak – puncaknya karena runtuh.
Setelah puas menikmati situs tersebut, dan sekaligus makan siang di lokasi, rombongan kami segera bertolak ke tujuan penelitian terakhir, yaitu Museum Brawijaya.
Museum peninggalan Jepang ini menyimpan banyak barang dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari mobil klasik, uang kuno, sampai pada computer zaman dahulu. Banyak hal yang bisa kita pelajari di sana. Lalu, ada sesuatu hal yang sampai sekarang menggelitik di otakku. Yaitu peraturan yang melarang pengunjung untuk mengambil foto di area museum. Untuk apa sebenarnya peraturan tersebut?aku piker itu tak ada gunanya.tapi di lokasi hanya terdapat tulisan – tulisan saja tanpa adanya pengawasan yang lebih kongkret. Buktinya saya dan para pengunjung lain tetap dapat dengan leluasa berfoto – foto ria di sana.
Sekitar pukul setengah 3 sore, kami mengakhiri petualangan kita dalam melakukan penelitian pelajaran yang bersangkutan. Dan tiba saat yang kami tunggu – tunggu untuk memanjakan mata. Waktunya berbelanja. Tujuan wisata belanja kami yang pertam adalah MOG, sebuah mall besar di Malang, waktu kita lumayan lama untuk menikmati lokasi perbelanjaan yang tak bisa kita jumpai di Bojonegoro. Sebenarnya tak banyak barang yang kita beli di sana, karena harga rata – rata barang tersebut melebihi kapasitas kantong kami. alhasil, kami hanya berputar – putar di sana.
Setelah sekitar 3 jam menikmati megahnya MOG, kami segera bergegas menuju ke wisata belanja yang terakhir sebelum kita kembali ke Bojonegoro tercinta, yaitu pasar lawang, sebuah pasar yang terletak di Kota Malang, menjual berbagai panganan khas yang bisa untuk oleh – oleh orang terkasih kita. Banyak hal yang bisa dibeli di sana. Mulai dari apel, sayuran, sampai dengan kripik khas malang.
Akhirnya sekitar pukul 21.00 kita mengakhiri aktifitas kita pada hari ini. Bis dengan cepat melaju dari malang menuju Kota Bojonegoro secepat mungkin. Banyak dari teman – teman yang merasa kelelahan dan tertidur di bis, termasuk aku. Dan tanpa terasa, setelah bangun perjalanan telah memasuki kota Bojonegoro. Kami sampai sekitar pukul 24.00 dan kemudian pulang ke rumah masing – masing untuk beristirahat, merangkai mimpi, menyongsong hari esok yang lebih baik.



With love,


Alfi

Jumat, 04 Desember 2009

Ajari Aku Sepertimu…

Seonggok pohon jambu yang selalu setia berdiri kokoh di antara ke dua bangunan ini seakan menyambutku dengan daunnya yang melambai dan menyuruhku untuk selalu bersemangat melanjutkan hidup apapun rintangannya. Dia ingin mengajarkan padaku sebuah arti hidup yang sesungguhnya. Hal itu membuatku berfikir seketika, di saat kau berkata bahwa aku, seorang yang sebenarnya bisa berbuat lebih bagi semuanya, namun begitu rapuh dan mudah roboh oleh semua cobaan yang ada. Perasaan maluku terhadap sebatang pohon jambu di samping koperasi muncul. Dia yang sekilas terlihat rapuh dan jelek, begitu kuat dan tangguh, bahkan engkau masih tetap tumbuh dan berbuah walaupun banyak orang menyakitimu, melemparimu dengan batu hanya untuk mengambil buahmu yang membuatmu mungkin merasa begitu sakit saat ini, seperti halnya aku. Aku juga merasakan hal yang sama pohon, aku merasakan sakit, sakit sekali. Banyak hal yang membuatku seperti sekarang ini, tapi mengapa? Mengapa aku tak bisa sepertimu? Kau tetap berdiri tegak, tak goyah sedikitpun, sekeras apapun angin yang menerpamu. Batangmu menjulan ke langit menantang sang mentari, seakan tak terbersit rasa takut sedikitpun olehmu yang bahkan bisa membakarmu kapanpun dia mau. Ajari aku sepertimu. Kau berikan kesejukan bagi orang – orang di sekelilingmu dengan daunmu yang hijau. Kau tetap berikan kehidupan bagi makhluk lain yang bahkan akan menghambat pertumbuhanmu kelak. Lihatlah benalu yang ada di sana. Mengapa kau tak menyingkirkannya? Mengapa kau korbankan dirimu untuknya? Apakah memang semua itu butuh pengorbanan? Tapi, apa balasannya untukmu? Munkinkah tujuan dalam hidup itu bukan semata – mata masalah keuntungan? Lalu apa? Untuk apakah hidup ini? Aku terus berpikir keras sampai akhirnya aku melihat seekor kupu – kupu cantik hinggap di dahanmu dengan tersenyum. Kepakan sayapnya begitu bergairah seakan memberikan pertanda bahwa dia bahagia bisa hidup berdampingan denganmu pohon. Oh, aku tahu, mingkin ini yang akan kau ajarkan padaku. Bahwa kehidupan tidak semata – mata hanya masalah keuntungan dan kesenangan saja, tapi bagaimana cara kita agar bisa memberikan kehidupan dan manfaat bagi orang – orang di sekitar kita.
Sejuknya hembusan angin menyapaku disini dan menyampaikan salam dari sang pohon kepadaku. Mereka berkata bahwa bahagia dengan apa yang diperolehnya sekarang dan mengingatkanku untuk selalu bersyukur dengan segala anugrah dalam hidup.


With love,


Alfi
Ditulis di bawah pohon
Jambu samping koperasi
SMAdaBO, 4 Desember 2009

Dimana Tempatku?

Hempaskan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan terbang. Melayang tinggi demi sayap pikiran dan perasaan yang terkembang. Biar kata orang: cinta itu tempatnya di awang – awang.
Jauhkan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan rindu tiada tara. Beban teramat berat untuk dapat dipikul jiwa dan raga. Biar kata orang: cinta itu merdeka dari dimensi jagat raya.
Bungkamkan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan lupa untuk tertawa. Dan kesedihan adalah teman terbaik yang selalu ada. Biar kata orang: cinta itu surganya dunia.
Butakan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan tatapan mata. Demikian yang terlihat kemudian samar – samar, hingga sirna. Biar kata orang: cinta itu selalu nyata.
Tulikan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan yang terdengar. Tetapi membuatku sukar membedakan suara riak air atau api yang membakar. Biar kata orang: cinta itu hal yang pasti benar.
Bangunkan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan pesona alam mimpi. Dengan tubuh yang tertawan di antara awan dan embun pagi. Biar kata orang: cinta itu memang penuh dengan misteri.
Hentikan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan lelahnya langkah kaki. Jejak – jejak lama dan baru di jalan tanpa tepi. Biar kata orang: cinta itu anggun dan berhak untuk dihargai.
Hapuskan aku dari cinta. Jika cinta membuatku merasakan bagian dari baris puisi. Senandung irama hati dengan makna yang tersembunyi. Biar kata orang: cinta itu jujur dan suci.
Musnahkan aku dari cinta. Jika jika cinta membuatku merasakan arti sepi. Pada sekuntum asa yang wanginya menusuk – nsuk urat nadi. Biar kata orang: cinta itu benar – benar hidup juga abadi.


With love,

Alfi